![]() |
| Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano |
CENTRALBATAM.COM, BATAM – Ancaman fenomena El Niño yang berpotensi memicu periode kering berkepanjangan membuat Badan Pengusahaan (BP) Batam memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air baku di Kota Batam.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Program tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan volume air di sejumlah waduk yang menjadi sumber utama pasokan air baku Batam.
Dalam persiapannya, BP Batam menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta AirNav Indonesia. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga elevasi waduk tetap berada pada kondisi aman selama periode kemarau.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya cadangan air akibat pengaruh El Niño.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi bukan hanya mengenai ada atau tidaknya hujan. Curah hujan yang turun belum tentu berada di wilayah tangkapan air waduk sehingga belum otomatis memberikan tambahan signifikan terhadap cadangan air baku.
Karena itu, operasi modifikasi cuaca diarahkan untuk membantu mendatangkan hujan ke wilayah yang memiliki peran penting terhadap pengisian waduk.
Sejumlah waduk yang menjadi perhatian BP Batam di antaranya Waduk Nongsa, Sei Ladi, Sei Harapan, Mukakuning, Tembesi dan Duriangkang.
Pelaksanaan TMC direncanakan dilakukan dalam tahap awal selama satu pekan. Setelah itu, efektivitas kegiatan akan dievaluasi, terutama dalam melihat pengaruhnya terhadap peningkatan debit dan elevasi air waduk.
Masyarakat Diminta Ikut Menjaga Ketahanan Air
Selain mengandalkan langkah teknis, BP Batam menilai keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi kekeringan.
Masyarakat diminta menggunakan air secara efisien dan menghindari pemborosan. Penghematan air dinilai penting untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga di tengah pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri yang terus berkembang di Batam.
BP Batam juga mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan tindakan atau penggunaan jaringan air yang tidak sesuai dengan ketentuan. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga distribusi air tetap terkendali.
Denny mengatakan persoalan ketahanan air tidak dapat hanya diselesaikan melalui langkah jangka pendek. Diperlukan perencanaan berkelanjutan agar kebutuhan air Batam dapat tetap terpenuhi seiring perkembangan kota.
Dalam konteks tersebut, BP Batam juga melihat pengalaman Singapura dalam mengelola sumber daya air sebagai salah satu referensi yang dapat dipelajari.
Singapura mengembangkan sistem pengelolaan air dengan memanfaatkan berbagai sumber, mulai dari penampungan air hujan, desalinasi air laut, air impor hingga air hasil daur ulang yang dikenal sebagai NEWater.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan air membutuhkan kombinasi antara pengelolaan sumber daya, pemanfaatan teknologi, efisiensi konsumsi serta perencanaan jangka panjang.
BP Batam pun terus mengkaji berbagai alternatif untuk memperkuat sistem penyediaan air baku di Batam. Hal ini dinilai semakin penting mengingat kebutuhan air akan terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan permukiman, industri dan investasi.
Dengan kombinasi langkah teknis, penguatan infrastruktur serta kesadaran masyarakat dalam menggunakan air secara bijak, ketahanan air Batam diharapkan tetap terjaga meski menghadapi tantangan perubahan iklim dan potensi kemarau panjang.(mzi)
