Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendapatan Tak Menentu, Warga Suku Laut Pulau Lipan Diajari Menabung dan Kelola Keuangan

30 Agustus 2026 Last Updated 2026-08-30T07:25:29Z

 

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Maritim Raja Ali Haji saat foto bersama dengan keluarga Suku Laut di Pulau Lipan, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga. (Foto: Dokumentasi Tim PKM UMRAH)


CENTRALBATAM.COM, LINGGA – Kehidupan masyarakat Suku Laut di Pulau Lipan, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga, kini mulai mengalami perubahan.


Di tengah penghasilan yang bergantung pada hasil tangkapan laut, warga dibekali kemampuan mengelola keuangan keluarga secara lebih terencana sekaligus diperkenalkan dengan pemanfaatan layanan keuangan digital yang aman.


Perubahan tersebut diwujudkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) bertema "Penguatan Literasi Keuangan dan Kemandirian Ekonomi Keluarga Suku Laut di Era Digital".


Kegiatan yang dimulai sejak April 2026 ini dijadwalkan berlangsung hingga November 2026.


Program dipimpin oleh Dr. Eki Darmawan, S.Sos., M.I.P., bersama Ilham Yuri Nanda, S.IP., M.Sos. dan Putri Yuliandari, S.Ak., M.Acc., serta melibatkan mahasiswa UMRAH dalam proses pendampingan langsung kepada masyarakat.


Menurut Eki Darmawan, program ini hadir sebagai solusi atas kondisi ekonomi keluarga nelayan yang cenderung tidak stabil karena dipengaruhi cuaca dan hasil tangkapan.


"Pendapatan nelayan tidak selalu sama setiap hari. Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan skala prioritas kebutuhan, serta menyisihkan sebagian pendapatan saat hasil tangkapan sedang baik," jelasnya.


Pendampingan dilakukan dengan metode partisipatif melalui kunjungan dari rumah ke rumah.


Pendekatan tersebut dipilih agar materi yang diberikan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing keluarga.


Dalam kegiatan tersebut, warga diberikan pemahaman mengenai penyusunan anggaran rumah tangga, pencatatan keuangan sederhana, membedakan kebutuhan dan keinginan, pentingnya menabung, hingga cara mengelola utang secara sehat.


Tak hanya itu, masyarakat juga diajak memanfaatkan telepon pintar untuk kegiatan yang lebih produktif.


Mereka diperkenalkan dengan layanan mobile banking, dompet digital, QRIS, hingga cara menjaga keamanan data saat bertransaksi secara digital.


Eki menegaskan bahwa telepon pintar memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar alat komunikasi atau belanja daring.


"Smartphone juga bisa digunakan untuk mencatat keuangan keluarga, menerima pembayaran, mencari informasi usaha, hingga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat," ujarnya.


Hasil evaluasi awal terhadap 20 keluarga peserta menunjukkan sebanyak 65 persen responden berprofesi sebagai nelayan, 30 persen merupakan ibu rumah tangga, dan lima persen bekerja sebagai pengupas udang.


Sebanyak 80 persen keluarga telah memiliki akses terhadap telepon pintar, baik milik pribadi maupun anggota keluarga lainnya.


Bahkan, 75 persen di antaranya pernah menggunakan layanan digital.


Meski demikian, pemanfaatan teknologi masih didominasi aktivitas belanja daring.


Sebanyak 70 persen responden mengaku pernah berbelanja secara online, sedangkan penggunaan layanan mobile banking, dompet digital, maupun QRIS baru mencapai sekitar 35 persen.


Pengukuran literasi keuangan juga menunjukkan nilai rata-rata peserta berada pada angka 45,75 dari skala 100, yang masih tergolong kategori sedang.


Artinya, kemampuan mengambil keputusan keuangan sudah mulai terbentuk, namun kebiasaan mencatat keuangan, menabung, serta memanfaatkan layanan digital secara optimal masih perlu ditingkatkan.


Anggota tim PKM dari bidang akuntansi, Putri Yuliandari, menjelaskan bahwa metode pencatatan keuangan dibuat sesederhana mungkin agar mudah diterapkan.


"Masyarakat hanya perlu mencatat uang yang masuk, pengeluaran untuk kebutuhan pokok, jumlah tabungan, pembayaran utang, dan sisa uang yang dimiliki. Format sederhana ini diharapkan menjadi kebiasaan sehari-hari," katanya.


Selama pendampingan berlangsung, sejumlah perubahan mulai terlihat.


Peserta semakin memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, bahkan beberapa keluarga telah mulai rutin mencatat arus kas rumah tangga.


Namun demikian, kebiasaan menabung secara konsisten masih menjadi tantangan karena penghasilan nelayan yang fluktuatif.


Begitu pula pemanfaatan telepon pintar untuk aktivitas ekonomi produktif yang masih berada pada tahap awal.


Selain edukasi pengelolaan keuangan, tim PKM juga memberikan pemahaman mengenai keamanan transaksi digital.


Warga diingatkan agar tidak membagikan PIN, kode OTP, nomor identitas pribadi, maupun data rekening kepada siapa pun.


Mereka juga dikenalkan dengan berbagai modus penipuan digital, tautan palsu, hingga pinjaman online ilegal.


Pendampingan akan terus dilakukan hingga program berakhir pada November mendatang.


Tahap selanjutnya difokuskan pada pembentukan kebiasaan mencatat keuangan, meningkatkan budaya menabung sesuai kemampuan, serta memperluas pemanfaatan layanan keuangan digital secara aman.


"Kami ingin program ini tidak berhenti sebatas penyuluhan. Yang paling penting adalah tumbuhnya kebiasaan baru yang mampu membantu keluarga mengelola pendapatan dengan lebih baik, mengurangi risiko persoalan keuangan, dan pada akhirnya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat," tutup Eki.


Program PKM ini mendapat dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMRAH serta dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan Selayar, Pemerintah Desa Penuba, dan masyarakat Suku Laut di Pulau Lipan.(yud)

×
Berita Terbaru Update